Selasa, 12 November 2013
18+
Perhatian..!!! hanya untuk 18+
ada 2 kemungkinan benda yang dipajang adalah untuk:
1.dijual (toko)
2.dinikmati (museum)
Pada suatu hari saya merasa jenuh dirumah dan saya putuskan untuk pergi mencari keramaian, salah satu tempat yang saya tuju adalah lapangan didaerah ..*&#$%@..
5 menit saya duduk dipinggir lapangan smbil mijitin hp biar kelihatan gaul, kemudian ada wanita cantik pake baju singlet, celana atas paha.. kebetulan lapangan ramai pengunjung karena ada sebuah event.. Tanpa basa basi saya dekati dan memandang tubuhnya yang sexy.. 3 menit lebih saya memandang sambil mengikutinya dari belakang dengan jarak antara mata dan tubuhnya sekitar 30cm. sontak saja wanita itu berbalik dan memandang saya dengan penuh amarah dan memaki saya,
"apa-apaan luh mandang gua kayak gitu.. (prakkkk.. tangannya melayang kepipi saya)"
dengan santai saya jawab
"sebelumnya saya minta maaf mbak.. benda yang dipajang kan memang untuk dinikmati keindahannya, mbak lihat aja benda-benda dimusium,,, benda-benda itu dipajang kan untuk dilihat dan dinikmati keindahanya,, salah mbak sendiri memajang paha dan bentuk tubuh mbak ditempat umum.. jadi bukan salah saya.."
wanita itu diam dan langsung pergi..
(****cerita fiktif belaka, tidak untuk ditiru karena perbuatan maksiat, ambil yang positif, jika anda punya otak pasti anda bisa mengambil hal yang positif****)
3 hari berikutnya saya nongkrong ditempat yang sama dan melintas cewek yang sama dan pakaian yang sama, tapi kali ini dia dengan ayahnya, ya sudahlah... saya sapa cewek itu
"permisi mbak.. paha sama dada mbak dijual berapa???
langsung keduakalinya saya dapat tamparan dan cacian, tapi kali ini ayahnya yang menampar saya.. waoww.... sakit sangat,
"dassar bocah songong, anak saya kamu lecehin didepan saya dan ditempat umum, belum tahu saya siapa??" kata bapaknya dengan penuh emosi,,
"mohon maaf bapak ini siapa??" saya jawab dengan halus,
"saya polisi (jabatan KOM.POL) kamu bisa saya jebloskan kepenjara"
bukanya saya takut tapi malah saya jawab dengan tegas
"sekali lagi saya minta maaf pak.. bapak pasti melihat toko yang memajang barang, semua barana itu untuk dijual pak,, begitu pula anak bapak yang memajang paha, dada dan bentuk tubuhnya itu, ya... saya mengira anak bapak memajangnya untuk dijual. kalau tidak dijual kenapa dipajang?? siapa yang lebih salah dalam hal ini pak?? seandainya anak bapak tidak mengumbar auratnya pasti saya tidak bertanya seperti itu, berarti dalam hal ini bapak tidak bisa mendidik dan menerapkan nilai norma dan moral dalam jiwa anak bapak"
polisi itu hanya terdiam,,dan diam lalu mengulurkan tanganya kepada saya dan meminta maaf..
****sekian....
semoga anda bisa mengambil makna dari cerita diatas..
(****cerita fiktif belaka, tidak untuk ditiru karena perbuatan maksiat, jika anda punya otak pasti anda bisa mengambil hal yang positif****)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar